03 June 2006

Lihat!


Lihat! Lihat di lazuardi! terlalu merah dinikmati seorang diri
Lihat! Lihat luas air itu! terlalu luas dijelajahi tanpamu

Kapan

Menghabiskan renung di Seminung
Senja tetap saja jumawa
Menjaring mendung di Banding Agung
Tak memberi tetes asa

O, Putri penjaga bumi
Lalu kapan kau sudi temani melukis pelangi
Sementara tak ada jawaban kutemukan di selatan Barisan

02 June 2006

Sebelum Waktu Pergi dan Berlari

Hasrat harus segera dituntaskan sebelum runcing waktu membunuh sensitifitas tubuhku. Akan kupercikkan cahaya agar aku bisa menangkap jelas dimana malaikat itu tengah berada.

Seperti malam kau terdiam. Cangkir kopi dan bungkus rokok kretek menemanimu mengeja kesunyian. Seperti malam, hatimu teduh namun riuh. Laju kendaraan yang lalu-lalang diselingi teriakan klakson menjadi instrumen tersendiri dalam lantunan komposisi dini hari.

"Zahra! Zahra!" teriak seseorang yang berdiri di ujung jalan. O, andai kebekuan bisa rampung di sebuah ujung, tentu bulan tak perlu menyembunyikan kemolekan dibalik cadar hitam. Orang-orang bilang itu bulan sabit. Bagimu itu adalah amsal agar manusia bisa bersabar, bahwa keindahan tak bisa dinikmati sekali jadi.

Kau tercenung. Cangkir kopi di hadapanmu mengingatkan akan seorang bijak yang berkata, "Kau tahu, tak mungkin kau terjaga di pagi hari lantas mendapati secangkir kopi susu. Kau harus bangun lebih dini, menyeduh air, menyiapkan cangkir dan menambahkan kopi, gula atau apa saja yang kau suka, baru kau bisa menikmatinya."

Kau tersenyum. Untuk hal sesederhana itu harus ada orang lain yang memberimu ingat. Maka detik itu pula ada perasaan aneh yang menelusup dalam dada. Hangat, semacam cinta. Tapi kau tahu, kehangatan tak selalu membuatmu merasa nyaman.

"Musim semi sudah lewat," ucap perempuan yang kau temui kemarin siang. Kau ingin sepakat, mesti tak mudah. Bagaimana bisa musim semi sudah lewat, sementara bunga-bunga sedang bermekaran di pembatas jalan. Jika ini musim panas, mengapa matahari tak kunjung mengamuk ganas?

"Sebuah jawaban tak musti membuat keadaan jadi lebih baik," demikianlah jawaban yang diberikan Adam kepada Hawa di sebuah ruang waktu setelah sekian lama takdir memisahkan mereka berdua. Jawaban cerdas, pikirmu. Meski kau tahu bukan itu yang diperlukan saat ini. Kau butuh pasti. Supaya kelam yang lama tertanam segera tiwikrama. Bukan jadi raksasa, tapi jadi taman bunga tempatmu tinggal menghitung usia.

Ah, kau ingin sekali melanjutkan perbincangan yang terjeda. Sebab kau tahu pasti besok pagi akan mati. Sebab kau tahu besok pagi akan mati.

p.s: Bagian kedua dari tiga catatan. Catatan pertama telah sampai di salah satu pengguna Yahoo. bagian terakhir masih diendapkan di ruang ide penulis. Doakan agar segera usai.

27 May 2006

Semoga Tangis Segera Reda

Kairo masih gelap saat pesan singkat itu masuk. Seorang kawan di Klaten mengabarkan ada gempa di Jogja dan Klaten. Aku tertegun. Ada gempa yang sama dalam dada. Gemuruh yang memuntahkan pijar gelisah, meluluh lantakkan sebaris kenangan indah.

Jogja, bukan lapak-lapak buku murah yang mengobati dahaga wacana.
Jogja, bukan obrolan-obrolan mencerdaskan di warung angkringan.
Jogja, bukan puisi yang menari di jalanan Malioboro.
Jogja, bukan tawa ceria debur ombak laut Selatan
Jogja, bukan cangkir kopi dan nikmat kretek di Kaliurang

Jogja hari ini adalah wajah-wajah gelisah, tubuh luka penuh darah, mata yang hujan, bangunan merata bumi, jalan pecah bergelombang, raung sirine menyayat hati, dan segala bentuk ketidaknyamanan lain.

Aku di sini hanya bisa menatap langit kosong, bersih tanpa awan. Tapi di sini, di dada ini, hati luruh diguyur hujan. Berharap doa tak moksa sebelum mencapai langitNya.

Semoga tangis segera reda
Duduk lagi kita di sana
Di Tugu
Di kota lama
Di kota kita
Jogjakarta

20 May 2006

Tugasku Sebagai Manusia Belum Purna

Belakangan ini aroma kematian menyelimutiku. Banyak yang pergi dan tak mungkin kembali. Tiba-tiba aku merasa takut. Takut jika hal yang sama terjadi padaku. Sekian tahun perjalanan hidup tak membuatku bisa meninggalkan sesuatu untuk dunia di mana aku lahir dan tumbuh.

Sudah banyak orang-orang yang mati muda. Ada yang tercatat, lebih banyak yang dilupakan. Aku, boleh jadi akan masuk kelompok kedua. Hanya serupa debu, terbang dan melintas lalu.

Andai bisa, aku masih ingin hidup dua atau tiga tahun lagi. Setidaknya masih banyak hal-hal yang tertunda dan harus segera dilaksanakan. Tugasku sebagai manusia belum purna. Tugasku sebagai manusia belum purna.