Mata
Ada tiga mata bertemu di kafe itu:
matasenja, matakata dan matangantuk.
Matasenja lekas terpejam karena hujan bilang
pertemuan ini memang jatahnya malam.
Matakata minus delapan karena katakata
waduh mabuk berat dihajar kenangan.
Matangantuk merah merindu melihat botol bir
makin penuh dengan air matamu.
Selamat Malam, Kanibal
Kita datang ke perjamuan seperti pernah kita janjikan
Kau sangat lapar, aku ingin kenyang.
Selamat makan. Hujan sangat kanibal: ia habiskan derau hujan sebelum sempat kita cicipi harum hujan.
Ayo minum. Matamu sangat kanibal: mereguk mataku sepenuh ambigu sebelum mataku meneguk matamu.
Apa lagi yang akan kau santap, hai kanibal, bila senja yang belum matang juga lenyap dilahap malam?
Oh ya, masih ada anggur darah. Kita muntah-muntah.
Kau muntah rindu, aku muntah waktu.
Kita pulang membawa sesal. Selamat malam, kanibal!
Kau melenggang ke kiri, aku menghilang ke kanan.
Kita berpisah sebelum sempat saling menghabiskan.
Selesai Sudah Tugasku Menulis Puisi
sebab kata-kata sudah besar, sudah selesai studi, dan mereka harus pergi cari kerja sendiri.
03 June 2006
Rhapsody on a Windy Night By TS Elliot
Twelve o'clock.
Along the reaches of the street
Held in a lunar synthesis,
Whispering lunar incantations
Disolve the floors of memory
And all its clear relations,
Its divisions and precisions,
Every street lamp that I pass
Beats like a fatalistic drum,
And through the spaces of the dark
Midnight shakes the memory
As a madman shakes a dead geranium.
Half-past one,
The street lamp sputtered,
The street lamp muttered,
The street lamp said,
"Regard that woman
Who hesitates toward you in the light of the door
Which opens on her like a grin.
You see the border of her dress
Is torn and stained with sand,
And you see the corner of her eye
Twists like a crooked pin."
The memory throws up high and dry
A crowd of twisted things;
A twisted branch upon the beach
Eaten smooth, and polished
As if the world gave up
The secret of its skeleton,
Stiff and white.
A broken spring in a factory yard,
Rust that clings to the form that the strength has left
Hard and curled and ready to snap.
Half-past two,
The street-lamp said,
"Remark the cat which flattens itself in the gutter,
Slips out its tongue
And devours a morsel of rancid butter."
So the hand of the child, automatic,
Slipped out and pocketed a toy that was running along
the quay.
I could see nothing behind that child's eye.
I have seen eyes in the street
Trying to peer through lighted shutters,
And a crab one afternoon in a pool,
An old crab with barnacles on his back,
Gripped the end of a stick which I held him.
Half-past three,
The lamp sputtered,
The lamp muttered in the dark.
The lamp hummed:
"Regard the moon,
La lune ne garde aucune rancune,
She winks a feeble eye,
She smiles into corners.
She smooths the hair of the grass.
The moon has lost her memory.
A washed-out smallpox cracks her face,
Her hand twists a paper rose,
That smells of dust and old Cologne,
She is alone With all the old nocturnal smells
That cross and cross across her brain.
The reminiscence comes
Of sunless dry geraniums
And dust in crevices,
Smells of chestnuts in the streets
And female smells in shuttered rooms
And cigarettes in corridors
And cocktail smells in bars."
The lamp said,
"Four o'clock,
Here is the number on the door.
Memory!
You have the key,
The little lamp spreads a ring on the stair,
Mount.
The bed is open; the tooth-brush hangs on the wall,
Put your shoes at the door, sleep, prepare for life."
The last twist of the knife.
Along the reaches of the street
Held in a lunar synthesis,
Whispering lunar incantations
Disolve the floors of memory
And all its clear relations,
Its divisions and precisions,
Every street lamp that I pass
Beats like a fatalistic drum,
And through the spaces of the dark
Midnight shakes the memory
As a madman shakes a dead geranium.
Half-past one,
The street lamp sputtered,
The street lamp muttered,
The street lamp said,
"Regard that woman
Who hesitates toward you in the light of the door
Which opens on her like a grin.
You see the border of her dress
Is torn and stained with sand,
And you see the corner of her eye
Twists like a crooked pin."
The memory throws up high and dry
A crowd of twisted things;
A twisted branch upon the beach
Eaten smooth, and polished
As if the world gave up
The secret of its skeleton,
Stiff and white.
A broken spring in a factory yard,
Rust that clings to the form that the strength has left
Hard and curled and ready to snap.
Half-past two,
The street-lamp said,
"Remark the cat which flattens itself in the gutter,
Slips out its tongue
And devours a morsel of rancid butter."
So the hand of the child, automatic,
Slipped out and pocketed a toy that was running along
the quay.
I could see nothing behind that child's eye.
I have seen eyes in the street
Trying to peer through lighted shutters,
And a crab one afternoon in a pool,
An old crab with barnacles on his back,
Gripped the end of a stick which I held him.
Half-past three,
The lamp sputtered,
The lamp muttered in the dark.
The lamp hummed:
"Regard the moon,
La lune ne garde aucune rancune,
She winks a feeble eye,
She smiles into corners.
She smooths the hair of the grass.
The moon has lost her memory.
A washed-out smallpox cracks her face,
Her hand twists a paper rose,
That smells of dust and old Cologne,
She is alone With all the old nocturnal smells
That cross and cross across her brain.
The reminiscence comes
Of sunless dry geraniums
And dust in crevices,
Smells of chestnuts in the streets
And female smells in shuttered rooms
And cigarettes in corridors
And cocktail smells in bars."
The lamp said,
"Four o'clock,
Here is the number on the door.
Memory!
You have the key,
The little lamp spreads a ring on the stair,
Mount.
The bed is open; the tooth-brush hangs on the wall,
Put your shoes at the door, sleep, prepare for life."
The last twist of the knife.
Lihat!

Lihat! Lihat di lazuardi! terlalu merah dinikmati seorang diri
Lihat! Lihat luas air itu! terlalu luas dijelajahi tanpamu
Lihat! Lihat luas air itu! terlalu luas dijelajahi tanpamu
Kapan
Menghabiskan renung di Seminung
Senja tetap saja jumawa
Menjaring mendung di Banding Agung
Tak memberi tetes asa
O, Putri penjaga bumi
Lalu kapan kau sudi temani melukis pelangi
Sementara tak ada jawaban kutemukan di selatan Barisan
Senja tetap saja jumawa
Menjaring mendung di Banding Agung
Tak memberi tetes asa
O, Putri penjaga bumi
Lalu kapan kau sudi temani melukis pelangi
Sementara tak ada jawaban kutemukan di selatan Barisan
02 June 2006
Sebelum Waktu Pergi dan Berlari
Hasrat harus segera dituntaskan sebelum runcing waktu membunuh sensitifitas tubuhku. Akan kupercikkan cahaya agar aku bisa menangkap jelas dimana malaikat itu tengah berada.
Seperti malam kau terdiam. Cangkir kopi dan bungkus rokok kretek menemanimu mengeja kesunyian. Seperti malam, hatimu teduh namun riuh. Laju kendaraan yang lalu-lalang diselingi teriakan klakson menjadi instrumen tersendiri dalam lantunan komposisi dini hari.
"Zahra! Zahra!" teriak seseorang yang berdiri di ujung jalan. O, andai kebekuan bisa rampung di sebuah ujung, tentu bulan tak perlu menyembunyikan kemolekan dibalik cadar hitam. Orang-orang bilang itu bulan sabit. Bagimu itu adalah amsal agar manusia bisa bersabar, bahwa keindahan tak bisa dinikmati sekali jadi.
Kau tercenung. Cangkir kopi di hadapanmu mengingatkan akan seorang bijak yang berkata, "Kau tahu, tak mungkin kau terjaga di pagi hari lantas mendapati secangkir kopi susu. Kau harus bangun lebih dini, menyeduh air, menyiapkan cangkir dan menambahkan kopi, gula atau apa saja yang kau suka, baru kau bisa menikmatinya."
Kau tersenyum. Untuk hal sesederhana itu harus ada orang lain yang memberimu ingat. Maka detik itu pula ada perasaan aneh yang menelusup dalam dada. Hangat, semacam cinta. Tapi kau tahu, kehangatan tak selalu membuatmu merasa nyaman.
"Musim semi sudah lewat," ucap perempuan yang kau temui kemarin siang. Kau ingin sepakat, mesti tak mudah. Bagaimana bisa musim semi sudah lewat, sementara bunga-bunga sedang bermekaran di pembatas jalan. Jika ini musim panas, mengapa matahari tak kunjung mengamuk ganas?
"Sebuah jawaban tak musti membuat keadaan jadi lebih baik," demikianlah jawaban yang diberikan Adam kepada Hawa di sebuah ruang waktu setelah sekian lama takdir memisahkan mereka berdua. Jawaban cerdas, pikirmu. Meski kau tahu bukan itu yang diperlukan saat ini. Kau butuh pasti. Supaya kelam yang lama tertanam segera tiwikrama. Bukan jadi raksasa, tapi jadi taman bunga tempatmu tinggal menghitung usia.
Ah, kau ingin sekali melanjutkan perbincangan yang terjeda. Sebab kau tahu pasti besok pagi akan mati. Sebab kau tahu besok pagi akan mati.
p.s: Bagian kedua dari tiga catatan. Catatan pertama telah sampai di salah satu pengguna Yahoo. bagian terakhir masih diendapkan di ruang ide penulis. Doakan agar segera usai.
Seperti malam kau terdiam. Cangkir kopi dan bungkus rokok kretek menemanimu mengeja kesunyian. Seperti malam, hatimu teduh namun riuh. Laju kendaraan yang lalu-lalang diselingi teriakan klakson menjadi instrumen tersendiri dalam lantunan komposisi dini hari.
"Zahra! Zahra!" teriak seseorang yang berdiri di ujung jalan. O, andai kebekuan bisa rampung di sebuah ujung, tentu bulan tak perlu menyembunyikan kemolekan dibalik cadar hitam. Orang-orang bilang itu bulan sabit. Bagimu itu adalah amsal agar manusia bisa bersabar, bahwa keindahan tak bisa dinikmati sekali jadi.
Kau tercenung. Cangkir kopi di hadapanmu mengingatkan akan seorang bijak yang berkata, "Kau tahu, tak mungkin kau terjaga di pagi hari lantas mendapati secangkir kopi susu. Kau harus bangun lebih dini, menyeduh air, menyiapkan cangkir dan menambahkan kopi, gula atau apa saja yang kau suka, baru kau bisa menikmatinya."
Kau tersenyum. Untuk hal sesederhana itu harus ada orang lain yang memberimu ingat. Maka detik itu pula ada perasaan aneh yang menelusup dalam dada. Hangat, semacam cinta. Tapi kau tahu, kehangatan tak selalu membuatmu merasa nyaman.
"Musim semi sudah lewat," ucap perempuan yang kau temui kemarin siang. Kau ingin sepakat, mesti tak mudah. Bagaimana bisa musim semi sudah lewat, sementara bunga-bunga sedang bermekaran di pembatas jalan. Jika ini musim panas, mengapa matahari tak kunjung mengamuk ganas?
"Sebuah jawaban tak musti membuat keadaan jadi lebih baik," demikianlah jawaban yang diberikan Adam kepada Hawa di sebuah ruang waktu setelah sekian lama takdir memisahkan mereka berdua. Jawaban cerdas, pikirmu. Meski kau tahu bukan itu yang diperlukan saat ini. Kau butuh pasti. Supaya kelam yang lama tertanam segera tiwikrama. Bukan jadi raksasa, tapi jadi taman bunga tempatmu tinggal menghitung usia.
Ah, kau ingin sekali melanjutkan perbincangan yang terjeda. Sebab kau tahu pasti besok pagi akan mati. Sebab kau tahu besok pagi akan mati.
p.s: Bagian kedua dari tiga catatan. Catatan pertama telah sampai di salah satu pengguna Yahoo. bagian terakhir masih diendapkan di ruang ide penulis. Doakan agar segera usai.
Subscribe to:
Posts (Atom)