Jika besok aku tak menyapamu, jangan merasa kehilangan. Bukan berarti aku tak ingin lagi menepi, menyepi, bersamamu saja, berdua seperti kemarin. Sudah cukup lama aku menarik diri dari gerak peradaban. Rasanya tak baik jika menunda-nunda kerja yang belum rampung. Aku tak tahu kapan akan "pulang" kepadamu. Mungkin dua tiga hari, mungkin seminggu, mungkin lebih lama dari itu.
Memang aku belum benar-benar pulih hari ini. Namun tak baik berlama-lama dalam gua. Aku hendak keluar. Banyak yang harus kuselesaikan dengan kawan-kawanku di sini. Aku juga harus tahu diri. Mereka memaklumi kondisiku yang lagi labil, sepatutnya pula aku bergegas menyusul.
Tapi tak usah terlalu khawatir, jika longgar aku akan berkabar untukmu. Mungkin tak sekerap hari-hari terakhir. Dan itu tak berarti aku sudah tak gulung-koming lagi seperti kemarin. Sepertinya masih. Sepertinya masih.
Terima kasih untuk kesediaan berbagi selama ini. Seperti yang kamu bilang kemarin dulu; segala gojekan tak bermutu itu meluruhkan sebagian bebanku.
p.s ketimbang Bend and Break, aku kok lebih menikmati aransemen This is The Last Time ya?
23 December 2006
20 December 2006
Sakauta Ingin Mati
: untuk kawan-kawan baik
Sakauta datang dengan bungkusan luka. Tak pernah ia merasa sesakit ini sebelumnya. Memang, baginya hidup adalah kesakitan yang tak terjeda. Meski begitu akumulasi adalah sesuatu yang lain; engkau bisa menahan mereka satu-satu, tidak saat luka berkumpul jadi satu.
Sakauta duduk di muka pintu rumah. Wajahnya lelah. Surat itu memang untuknya. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang. Entah. Sepertinya orang-orang sudah menutup mata. Bukan. Bukan buta. Mereka butuh istirahat setelah lelah jalan-jalan. Lalu Sakauta berjalan meninggalkan rumah. Bungkusan luka masih ada di tangannya.
Di lapangan ia berhenti. Duduk sejenak untuk mendinginkan hati. Hey! Sakauta tersenyum. Tidak. Sakauta tak hanya tersenyum, ia tertawa. Tapi hanya sebentar. Seketika wajahnya muram entah karena apa.
Ia merasa sendirian sekarang. Melihat lalu lalang kendaraan, orang-orang yang sesekali melintas. Ia sendirian sekarang. Melihat langit, bintang-bintang. Eh, bulan sedang sembunyi. Bulan tak tampak kali ini. Sebelum ritual melihat langit berakhir, tangan kirinya merogoh saku celana, masih ada beberapa batang rokok. Ia nyalakan sebatang. Huh, udara malam terasa dingin sekali. Ia masukkan tangan kanan pada saku sebelah kanan. Jemarinya menyentuh sesuatu. Kertas. Lalu diambilnya dua kertas dari saku. Satu berwarna kuning dengan huruf-huruf tercetak. Itu surel yang diprint di sekretariat tadi sore. Satu lagi tulisan tangan pada lembaran buku catatan. Ia kenal betul kertas itu sebagaimana ia kenal tulisan tangan milik siapa yang ada di sana. Lalu surel itu? Entahlah.
Aneh. Sakauta merasa ganjil. Dua surat dalam waktu hampir bersamaan berisi kesakitan. Ia kenal baik siapa yang menulis dua surat itu. Rasanya ada yang ganjil. Tapi Sakauta memang dilahirkan hanya untuk bertanya. Sebuah alasan tak musti membuat keadaan lebih baik, kata-kata itu yang masih saja diyakini hingga kini.
Malam makin larut. Udara dingin semakin terasa menelusup dalam tulang. Ah, Sakauta butuh istirahat. Ia sangat lelah. Tapi ia bimbang, kemana hendak melanjutkan perjalanan?
Sakauta ingin mati. Ingin sekali. Tapi tidak hari ini. Tidak saat ini.
Sakauta datang dengan bungkusan luka. Tak pernah ia merasa sesakit ini sebelumnya. Memang, baginya hidup adalah kesakitan yang tak terjeda. Meski begitu akumulasi adalah sesuatu yang lain; engkau bisa menahan mereka satu-satu, tidak saat luka berkumpul jadi satu.
Sakauta duduk di muka pintu rumah. Wajahnya lelah. Surat itu memang untuknya. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang. Entah. Sepertinya orang-orang sudah menutup mata. Bukan. Bukan buta. Mereka butuh istirahat setelah lelah jalan-jalan. Lalu Sakauta berjalan meninggalkan rumah. Bungkusan luka masih ada di tangannya.
Di lapangan ia berhenti. Duduk sejenak untuk mendinginkan hati. Hey! Sakauta tersenyum. Tidak. Sakauta tak hanya tersenyum, ia tertawa. Tapi hanya sebentar. Seketika wajahnya muram entah karena apa.
Ia merasa sendirian sekarang. Melihat lalu lalang kendaraan, orang-orang yang sesekali melintas. Ia sendirian sekarang. Melihat langit, bintang-bintang. Eh, bulan sedang sembunyi. Bulan tak tampak kali ini. Sebelum ritual melihat langit berakhir, tangan kirinya merogoh saku celana, masih ada beberapa batang rokok. Ia nyalakan sebatang. Huh, udara malam terasa dingin sekali. Ia masukkan tangan kanan pada saku sebelah kanan. Jemarinya menyentuh sesuatu. Kertas. Lalu diambilnya dua kertas dari saku. Satu berwarna kuning dengan huruf-huruf tercetak. Itu surel yang diprint di sekretariat tadi sore. Satu lagi tulisan tangan pada lembaran buku catatan. Ia kenal betul kertas itu sebagaimana ia kenal tulisan tangan milik siapa yang ada di sana. Lalu surel itu? Entahlah.
Aneh. Sakauta merasa ganjil. Dua surat dalam waktu hampir bersamaan berisi kesakitan. Ia kenal baik siapa yang menulis dua surat itu. Rasanya ada yang ganjil. Tapi Sakauta memang dilahirkan hanya untuk bertanya. Sebuah alasan tak musti membuat keadaan lebih baik, kata-kata itu yang masih saja diyakini hingga kini.
Malam makin larut. Udara dingin semakin terasa menelusup dalam tulang. Ah, Sakauta butuh istirahat. Ia sangat lelah. Tapi ia bimbang, kemana hendak melanjutkan perjalanan?
Sakauta ingin mati. Ingin sekali. Tapi tidak hari ini. Tidak saat ini.
14 December 2006
Pertemuan
aku mencarimu yang entah
temani aku melarung segala yang lelah
(penggalan sajak aku mencarimu yang entah, oleh Dedi Hermansyah)
Adalah engkau yang memaksaku untuk segera berkemas. Perjalanan memang belum usai. Tapi tak ada salahnya untuk sejenak istirahat. Bukan halte. Bukan tempat singgah. Sebab engkau adalah rumah. Di sana aku akan rebah. Bercerita tentang perjalanan. Bercerita tentang kota, pantai, sungai, laut, gunung. Bercerita tentang matahari, bulan, bintang, langit awan. Bercerita tentang apa saja sampai aku habis kata purna aksara.
Tak lama sayang, tak lama. Sabar saja engkau menunggu. Aku pasti kembali. Ke pangkuanmu. Ke pangkuanmu.
p.s: terima kasih jo :)
temani aku melarung segala yang lelah
(penggalan sajak aku mencarimu yang entah, oleh Dedi Hermansyah)
Adalah engkau yang memaksaku untuk segera berkemas. Perjalanan memang belum usai. Tapi tak ada salahnya untuk sejenak istirahat. Bukan halte. Bukan tempat singgah. Sebab engkau adalah rumah. Di sana aku akan rebah. Bercerita tentang perjalanan. Bercerita tentang kota, pantai, sungai, laut, gunung. Bercerita tentang matahari, bulan, bintang, langit awan. Bercerita tentang apa saja sampai aku habis kata purna aksara.
Tak lama sayang, tak lama. Sabar saja engkau menunggu. Aku pasti kembali. Ke pangkuanmu. Ke pangkuanmu.
p.s: terima kasih jo :)
14 November 2006
Aku Ingin Engkau Tersenyum
Aku ingin engkau tersenyum. Dia juga. Meski aku tahu bahwa senyum dalam waktu bersamaan tak musti kesejiwaan. Masih ingat cerpen yang aku kirim untukmu? Di sana ada adegan di mana seorang lelaki tersenyum setelah membeli setangkai mawar dari bocah kecil. Nah, bocah itu juga tersenyum bukan? Sementara lelaki itu tersenyum karena bunga itu mengingatkan dia akan peristiwa masa lalu, si bocah tersenyum karena uang itu bisa digunakan untuk mengganjal perut lapar.
Aku ingin engkau tersenyum. Dia juga. Meski aku tahu itu tidak mudah. Seperti Seno aku bertanya, terbuat dari apakah kenangan? Tentu aku tak tahu. Mungkin dia juga. Tapi seberapa penting untuk tahu asal sesuatu? Bukankah kepingan puzzle yang hendak kau genapkan sekarang datang entah dari mana entah karena apa? Maka izinkan aku menghadirkan dirimu dalam ruang pikirku. Mungkin tak lama. Sebentar saja. Sampai aku yakin bahwa engkau sudi tersenyum lagi.
Tak usah bertanya mengapa. Sebuah alasan tak musti membuat sesuatu lebih baik. Dia benar, yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian.
Aku ingin engkau tersenyum lagi. Dia juga.
p.s Tadi aku diam, sebab senja mengingatkan aku akan kematian.
Aku ingin engkau tersenyum. Dia juga. Meski aku tahu itu tidak mudah. Seperti Seno aku bertanya, terbuat dari apakah kenangan? Tentu aku tak tahu. Mungkin dia juga. Tapi seberapa penting untuk tahu asal sesuatu? Bukankah kepingan puzzle yang hendak kau genapkan sekarang datang entah dari mana entah karena apa? Maka izinkan aku menghadirkan dirimu dalam ruang pikirku. Mungkin tak lama. Sebentar saja. Sampai aku yakin bahwa engkau sudi tersenyum lagi.
Tak usah bertanya mengapa. Sebuah alasan tak musti membuat sesuatu lebih baik. Dia benar, yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian.
Aku ingin engkau tersenyum lagi. Dia juga.
p.s Tadi aku diam, sebab senja mengingatkan aku akan kematian.
07 November 2006
Paradoks Menjelang Mati
Dek, suatu saat kamu akan memahami kenapa aku merasa hidup begitu berat untuk terus diperjuangkan. Usiaku sekarang adalah batas di mana seorang manusia harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukan. Iya sendirian. Aku tak boleh lagi mengeluh. Aku tak boleh lagi menyalahkan variabel lain di luar diriku untuk sebuah kegagalan atau kesalahan. Dulu, aku bisa saja menuduh kamu, dia, atau mereka sebagai kambing hitam. Tapi tidak sekarang. Hukum alam tentang sebab-akibat masih berlaku. Karena aku bukan fatalis, tak ada ruang untuk melimpahkan kesalahan kepada variabel lain di luar diriku. Tuhan pun tak. Semoga kamu bisa memaklumi mengapa aku menjadi begitu pesimis untuk melanjutkan jalan -yang aku tahu- belum selesai.
Mas, kamu mungkin sedang lelah.
Iya dek, orang yang lelah butuh istirahat. Tapi aku terlalu bodoh dalam memilih waktu. Aku terlelap ketika mereka bangun. Saat aku bekerja, tak kulihat seorang pun di sekeliling. Mereka semua pulas. Tiba-tiba aku merasa menjadi seorang jagoan. Jagoan kesepian yang melakukan aksi-aksi heroik sendirian. O, terpujilah Dia Yang Tak Tidur dan Tak Lalai. Saat aku terjaga, aku melihat gerak laju peradaban yang sedemikian dahsyat. Mereka bekerja, mereka bergerak, sementara aku baru bangun tidur. Aku merasa ketinggalan. Tidurku terlalu panjang. Aku bukan jagoan.
Mas, dunia tak butuh pahlawan.
Iya dek, aku percaya sekarang. Maka jangan salahkan jika aku nanti jadi pengecut. Sebab dunia hanya butuh penurut.
Eh, kamu menemukan kontradiksi dalam surat yang aku tulis? Iya katamu? Wah, selamat datang dek. Selamat datang di dunia sebenar, bukan sekedar.
Mas, kamu mungkin sedang lelah.
Iya dek, orang yang lelah butuh istirahat. Tapi aku terlalu bodoh dalam memilih waktu. Aku terlelap ketika mereka bangun. Saat aku bekerja, tak kulihat seorang pun di sekeliling. Mereka semua pulas. Tiba-tiba aku merasa menjadi seorang jagoan. Jagoan kesepian yang melakukan aksi-aksi heroik sendirian. O, terpujilah Dia Yang Tak Tidur dan Tak Lalai. Saat aku terjaga, aku melihat gerak laju peradaban yang sedemikian dahsyat. Mereka bekerja, mereka bergerak, sementara aku baru bangun tidur. Aku merasa ketinggalan. Tidurku terlalu panjang. Aku bukan jagoan.
Mas, dunia tak butuh pahlawan.
Iya dek, aku percaya sekarang. Maka jangan salahkan jika aku nanti jadi pengecut. Sebab dunia hanya butuh penurut.
Eh, kamu menemukan kontradiksi dalam surat yang aku tulis? Iya katamu? Wah, selamat datang dek. Selamat datang di dunia sebenar, bukan sekedar.
Subscribe to:
Posts (Atom)